Tuesday, August 7, 2018

Indonesia Tersenyum Bersama Mice Cartoon

Benny-Mice, kolaborasi kartun Muhammad "Mice" Misrad bersama Benny Rachmadi berhasil mewarnai hari-hari minggu saya dengan senyuman. Hingga kini sendiri dengan nama Mice Cartoon, tak pernah sekalipun saya melewatkan kartun pendek Mice di halaman koran Kompas Minggu. Mice mengangkat tema keseharian manusia Indonesia ke dalam kartun buatannya. Aktual dan beragam, mulai soal gawai, piala dunia, selfie, macet, banjir, hingga seputar dunia politik. Tak mengherankan jika kartun-kartun karyanya adalah gambaran "Indonesia banget". Bukan hanya menghibur tapi lewat sindiran halus Mice membuat pembacanya berpikir ulang akan kesehariannya selama ini.
Lagak Jakarta, 100 Tokoh Yang Mewarnai Jakarta, Jakarta Luar Dalam, Jakarta Atas Bawah, Lost in Bali 1 & 2, Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura adalah karya-karyanya yang dibukukan bersama Benny Rachmadi. Hingga ini berkaya sendiri, Mice masih aktif melahirkan buku-buku kartun karyanya: Obladi Oblada Life Must Go On, Andai Aku Jadi Gubernur Jakarta, Politik Santun Dalam Kartun, Indonesia Banget 1 & 2, dan kini United Colors of Indonesia 1 & 2 lahir bersamaan peringatan 20 tahun ia berkarya. Selain itu, pameran tunggal karya-karyanya digelar di Galeri Nasional sejak bulan lalu. Mice mengajak pengunjung pameran untuk tersenyum bersama. Sepintas, kartun dipandang hanya sebatas hiburan remeh ala anak-anak. Tapi Mice menunjukan bahwa kartun adalah media untuk menyampaikan pesan, kegelisahan sekaligus kegembiraan dari kesehariannya hidup di Indonesia.


Kartun-kartun Mice menjadi representasi Indonesia yang multikultural yang terus bertumbuh menemukan bentuknya di antara harapan dan keputusasaan. Sementara kita akan terus tersenyum bersama kartun-kartun Mice merayakan kehidupan. 

Monday, June 4, 2018

ARTJOG 2018: Perjalanan Mencari Pencerahan

Sea remembers - Mulyana Mogus
Pencerahan bagi tiap-tiap orang mempunyai makna yang berbeda. Demikian pula bagi puluhan seniman yang kali ini menggelar karyanya di ARTJOG, pameran seni kontemporer tahunan di Jogjakarta. ARTJOG 2018 kali ini mengambil tema Enlightenment: Towards Various Futures. Ratusan karya dari proses memaknai pencerahan dipamerkan di Jogja National Museum sejak awal Mei lalu hingga awal Juni nanti. Jogjakarta menjadi salah satu kota tersubur kedua setelah Jakarta bagi tumbuhnya seniman. Maka tak heran di ARTJOG menjadi ajang yang menarik bagi penggiat dan penikmat seni nusantara. Tak hanya banyak seniman Jogja, tapi juga Jakarta bahkan luar negeri ikut memamerkan karyanya di ARTJOG.

Jogja menjadi kota sederhana yang mencerahkan bagi sebagian orang, termasuk saya. Sejak orang tua saya memutuskan tinggal di Jogja, ritual pulang kampung pun menjadi sering. Termasuk menyempatkan diri ke melihat pameran seni di ARTJOG kali ini. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah saya bersama seorang teman di Jogja National Museum. Melihat dan menikmati karya seni adalah bentuk rekreasi bagi saya kaum urban perkotaan yang setiap harinya tenggelam pada kesibukan bekerja. Saya selalu berdecak kagum bagaimana proses mencari dan menemukan bentuk karya yang bisa mempunyai makna sekaligus indah untuk dinikmati.

Seperti para seniman yang berproses dan menghasilkan karya, hidup pun demikian. Setiap waktu kita mencari pencerahan atas peristiwa hidup yang kita alami. Perjalanan mencari pencerahan pun tidak selalu mudah. Kita harus peka dan terbuka kepada segala kemungkinan yang ada. Kadang pencerahan pun muncul bukan dari hal yang muluk-muluk, melainkan dari hal kecil dan sederhana. Dengan mengunjungi ARTJOG 2018 ini, saya menyadari, kita hanya setitik kecil dari sebuah karya agung semesta dan bersama yang lain kita bisa mewujudkan percerahan itu dalam kehidupan bersemesta.

Thursday, March 8, 2018

Perempuan (di) Borobudur: Adalah Kita

(T)Angan-(T)Angan


Ia yang setia pada peran
Ia yang tabah pada derita
Ia yang terbungkam pada keadaan

Ia yang kuat pada pegangan
ia yang bahagia pada kesederhanaan
Ia yang asih pada semesta
Ia yang mulia pada akhirnya


PS: Foto-foto pameran Perempuan (di) Borobudur oleh perupa Dyan Anggraini di Galeri Nasional, Jakarta.


Sunday, February 25, 2018

Membaca Koran: Sebuah Kemewahan

Masih ingat di benak saya saat saya kanak-kanak dan remaja, bapak saya senang membaca koran tapi tak setiap waktu dapat membeli koran. Bapak hanya akan membeli koran saat sedang berkecukupan, selebihnya ia memilih membaca koran di perpustakaan sekolah tempatnya mengajar atau di warung makan yang menyediakan koran. Kalau sudah begitu, saya ikut-ikut melihat isi koran dan mencari yang sekiranya menarik buat saya, kartun/karikatur misalnya, atau berita hiburan. Bagi kami, membaca koran waktu itu adalah sebuah kemewahan karena tak setiap hari bisa melakukannya.

Begitulah memori membaca koran yang terbawa hingga kini saya dewasa. Maka ketika melihat koran, saya langsung bersorak dan menghampiri untuk membaca. Di stasiun, bandara, warung makan, cafe, bahkan di kantor. Sesekali saya menghadiahi diri saya untuk membeli koran di akhir pekan. Koran akhir pekan memang lebih menarik karena ada kolom buku, seni, cerpen, puisi, kartun dan TTS.

Dari koran saya menemukan banyak hal menarik dari berbagai topik di berbagai belahan dunia. Saya jadi ikut mengamati perkembangan di bidang politik, ekonomi, perkotaan dan masih banyak lagi. Meski sekilas tapi setidaknya saya tahu apa yang terjadi di kota, negara yang saya tinggali, dunia yang saya diami.

Di era digital seperti sekarang, banyak informasi mudah dan cepat didapat dari berbagai portal media online dan berbagai sosial media. Meski demikian, bagi saya koran mempunyai keasyikannya sendiri. Di media online, kita membaca informasi, tetapi di koran, kita membaca cerita dari informasi itu. Seperti pemberitaan gizi buruk di Asmat, Papua yang menjadi sorotan. Berbagai informasi disajikan di berbagai media berita online mulai jumlah korban, penanganan hingga bantuan yang didatangkan ke sana. Di koran, selain memberitakan informasi tersebut, kita bisa menemukan kisah cerita wartawan yang harus terjangkit malaria karena meliput di sana. Semua cerita itu saya nikmati lewat koran.

Tapi tetap saja bagi saya koran adalah sebuah kemewahan. Tak setiap waktu saya bisa membeli koran. Maka ketika ada promo diskon berlangganan koran digital dari Kompas, saya memutuskan untuk berlangganan. Saya bahagia setiap pagi sambil sarapan di depan komputer sebelum memulai bekerja, saya membaca koran.

Sudah baca koran hari ini?


2018

Tuesday, December 5, 2017

Goro-Goro: Monolog Visual Butet Kertaredjasa


Seekor celeng (babi hutan) di atas puncak gunungan emas menyambut pengunjung memasuki ruang pameran tunggal seni visual di atas keramik Butet Kertaredjasa di Galeri Nasional. Tak cuma seekor, ada beberapa patung celeng dengan corak yang beragam tampak berbaris mengikuti celeng pemimpinnya. Sebagai simbol keserakahan, celeng-celeng itu kini semakin banyak pengikutnya. Mereka siap merampas apa saja hanya untuk kepuasan diri. Itulah sebagian dari karya seni visual Butet K. yang dipamerkan di Galeri Nasional 1-13 Desember 2017.

Selain celeng, wajah-wajah semi realis hampir memenuhi sebagian ruang pameran. Ada wajah politikus berkampanye. Ada pula wajah Sang Budha yang teduh namun terlihat sedih di matanya. Atau wajah-wajah manusia dengan kelucuan, kedunguan, kegembiraan dan kesedihannya. Butet K. berhasil menggambarkan watak dan karakter manusia dalam wajah di atas keramik.

Butet Kertaredjasa banyak dikenal sebagai seorang seniman pertunjukkan. Bermain teater dan monolog, hingga menyutradarainya. Hakim Sarmin, berbagai judul seri Indonesia Kita, Sentilan Sentilun, Jazz Gunung, dan masih banyak lagi karyanya di seni pertunjukkan. Namun demikian, seni rupa adalah mulanya. Maka lewat pameran seni visual ini, ia seperti dilahirkan kembali pada awal keasyikannya di dunia seni. Dengan kematangannya berpentas, menyutradarai dan menulis, ia membuat hasil karya visualnya kali ini sebagai bentuk refleksinya yang mendalam terhadap hidup dan lingukannya. Layaknya ia menyisipkan kritik sosial di setiap pertunjukkannya, karya seni visual inipun adalah bentuk respons, kritik bahkan gugatan pada politik, sosial, seni budaya, agama, seks, dan lain sebagainya.

Maka tak heran, karyanya beragam mulai celeng, panakawan, hingga orang suci (Yesus, Budha) dan orang yang dianggapnya suci (Gus Dur, Soekarno, Jokowi). Wajah dan situasi itu dihadirkan dalam media keramik yang disusun di atas kayu, lempengan besi, kadang diatur secara kolase ataupun terbelah karena proses pembakaran bakal keramik. Bhineka keramik menjadi gambaran pameran tunggalnya ini. Begitu jugalah ia memahami Bhineka Tunggal Ika adalah berkat sekaligus kutukan, tergantung bagaimana masyarakat Indonesia menyikapinya. 

Melalui karyanya, kita bisa melihat (dan memahami) cara pandang dan ideologi Butet K. dalam memaknai hidup sebagai seniman, orang Jawa, umat beriman, dan warga negara Indonesia.  Karena Indonesia adalah sebuah proses yang masih terus berlangsung, seperti Butet Kertaredjasa selalu dengungkan: Jangan kapok menjadi Indonesia.

2017 

wishlist

tugas di Jepang, Paris & Italy; white Christmas; nonton konser Coldplay & Jason Mraz; lihat senja di Lombok, Wakatobi, Raja Ampat; sepeda ontel yang keren; punya buku sendiri.

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
@nikenkd / process engineer / interested in process technology and nanotechnology / nikonian / book addict / loves tea / likes shoots / beach & sunset lover

  © Free Blogger Templates 'Photoblog II' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP