Thursday, March 8, 2018

Perempuan (di) Borobudur: Adalah Kita

(T)Angan-(T)Angan


Ia yang setia pada peran
Ia yang tabah pada derita
Ia yang terbungkam pada keadaan

Ia yang kuat pada pegangan
ia yang bahagia pada kesederhanaan
Ia yang asih pada semesta
Ia yang mulia pada akhirnya


PS: Foto-foto pameran Perempuan (di) Borobudur oleh perupa Dyan Anggraini di Galeri Nasional, Jakarta.


Sunday, February 25, 2018

Membaca Koran: Sebuah Kemewahan

Masih ingat di benak saya saat saya kanak-kanak dan remaja, bapak saya senang membaca koran tapi tak setiap waktu dapat membeli koran. Bapak hanya akan membeli koran saat sedang berkecukupan, selebihnya ia memilih membaca koran di perpustakaan sekolah tempatnya mengajar atau di warung makan yang menyediakan koran. Kalau sudah begitu, saya ikut-ikut melihat isi koran dan mencari yang sekiranya menarik buat saya, kartun/karikatur misalnya, atau berita hiburan. Bagi kami, membaca koran waktu itu adalah sebuah kemewahan karena tak setiap hari bisa melakukannya.

Begitulah memori membaca koran yang terbawa hingga kini saya dewasa. Maka ketika melihat koran, saya langsung bersorak dan menghampiri untuk membaca. Di stasiun, bandara, warung makan, cafe, bahkan di kantor. Sesekali saya menghadiahi diri saya untuk membeli koran di akhir pekan. Koran akhir pekan memang lebih menarik karena ada kolom buku, seni, cerpen, puisi, kartun dan TTS.

Dari koran saya menemukan banyak hal menarik dari berbagai topik di berbagai belahan dunia. Saya jadi ikut mengamati perkembangan di bidang politik, ekonomi, perkotaan dan masih banyak lagi. Meski sekilas tapi setidaknya saya tahu apa yang terjadi di kota, negara yang saya tinggali, dunia yang saya diami.

Di era digital seperti sekarang, banyak informasi mudah dan cepat didapat dari berbagai portal media online dan berbagai sosial media. Meski demikian, bagi saya koran mempunyai keasyikannya sendiri. Di media online, kita membaca informasi, tetapi di koran, kita membaca cerita dari informasi itu. Seperti pemberitaan gizi buruk di Asmat, Papua yang menjadi sorotan. Berbagai informasi disajikan di berbagai media berita online mulai jumlah korban, penanganan hingga bantuan yang didatangkan ke sana. Di koran, selain memberitakan informasi tersebut, kita bisa menemukan kisah cerita wartawan yang harus terjangkit malaria karena meliput di sana. Semua cerita itu saya nikmati lewat koran.

Tapi tetap saja bagi saya koran adalah sebuah kemewahan. Tak setiap waktu saya bisa membeli koran. Maka ketika ada promo diskon berlangganan koran digital dari Kompas, saya memutuskan untuk berlangganan. Saya bahagia setiap pagi sambil sarapan di depan komputer sebelum memulai bekerja, saya membaca koran.

Sudah baca koran hari ini?


2018

Tuesday, December 5, 2017

Goro-Goro: Monolog Visual Butet Kertaredjasa


Seekor celeng (babi hutan) di atas puncak gunungan emas menyambut pengunjung memasuki ruang pameran tunggal seni visual di atas keramik Butet Kertaredjasa di Galeri Nasional. Tak cuma seekor, ada beberapa patung celeng dengan corak yang beragam tampak berbaris mengikuti celeng pemimpinnya. Sebagai simbol keserakahan, celeng-celeng itu kini semakin banyak pengikutnya. Mereka siap merampas apa saja hanya untuk kepuasan diri. Itulah sebagian dari karya seni visual Butet K. yang dipamerkan di Galeri Nasional 1-13 Desember 2017.

Selain celeng, wajah-wajah semi realis hampir memenuhi sebagian ruang pameran. Ada wajah politikus berkampanye. Ada pula wajah Sang Budha yang teduh namun terlihat sedih di matanya. Atau wajah-wajah manusia dengan kelucuan, kedunguan, kegembiraan dan kesedihannya. Butet K. berhasil menggambarkan watak dan karakter manusia dalam wajah di atas keramik.

Butet Kertaredjasa banyak dikenal sebagai seorang seniman pertunjukkan. Bermain teater dan monolog, hingga menyutradarainya. Hakim Sarmin, berbagai judul seri Indonesia Kita, Sentilan Sentilun, Jazz Gunung, dan masih banyak lagi karyanya di seni pertunjukkan. Namun demikian, seni rupa adalah mulanya. Maka lewat pameran seni visual ini, ia seperti dilahirkan kembali pada awal keasyikannya di dunia seni. Dengan kematangannya berpentas, menyutradarai dan menulis, ia membuat hasil karya visualnya kali ini sebagai bentuk refleksinya yang mendalam terhadap hidup dan lingukannya. Layaknya ia menyisipkan kritik sosial di setiap pertunjukkannya, karya seni visual inipun adalah bentuk respons, kritik bahkan gugatan pada politik, sosial, seni budaya, agama, seks, dan lain sebagainya.

Maka tak heran, karyanya beragam mulai celeng, panakawan, hingga orang suci (Yesus, Budha) dan orang yang dianggapnya suci (Gus Dur, Soekarno, Jokowi). Wajah dan situasi itu dihadirkan dalam media keramik yang disusun di atas kayu, lempengan besi, kadang diatur secara kolase ataupun terbelah karena proses pembakaran bakal keramik. Bhineka keramik menjadi gambaran pameran tunggalnya ini. Begitu jugalah ia memahami Bhineka Tunggal Ika adalah berkat sekaligus kutukan, tergantung bagaimana masyarakat Indonesia menyikapinya. 

Melalui karyanya, kita bisa melihat (dan memahami) cara pandang dan ideologi Butet K. dalam memaknai hidup sebagai seniman, orang Jawa, umat beriman, dan warga negara Indonesia.  Karena Indonesia adalah sebuah proses yang masih terus berlangsung, seperti Butet Kertaredjasa selalu dengungkan: Jangan kapok menjadi Indonesia.

2017 

Thursday, May 4, 2017

Litani Terima Kasih - Joko Pinurbo

Hati hujan yang menenangkan
Terima kasih
Mata malam yang meneduhkan
Terima kasih
Bibir kopi yang menghangatkan
Terima kasih

 Ibu hujan yang mendaraskan rincik-rincik merdu
Terimalah kasihku
Lampu malam yang memancarkan cahaya biru
Terimalah kasihku
Cangkir kopi yang menampung segala rindu
Terimalah kasihku

 Hati ibu yang berpendar sepanjang waktu
Aku terima kasihmu
Mata lampu yang menerangi halaman buku
Aku terima kasihmu
Bibir cangkir yang tahu pahit-manisnya bibirku
Aku terima kasihmu

Hujan, malam, kopi, dan kamu
Terima kasih

(Jokpin, 2016)

Friday, January 20, 2017

Menonton La La Land

Sebuah kota kecil dimana musik, seni suara, seni peran menjadi komponennya, itulah La La Land. Berlatar abad 20 di Los Angeles, La La Land digambarkan begitu berwarna. Warna-warna itu jelas terlihat dari fashion juga bangunannya. Film ini berkisah tentang Sebastian Wilder (Ryan Gosling), seorang pianis jazz yang berjuang menghidupkan jazz murni dan Mia Dolan (Emma Stone) yang berjuang mendapatkan peran di sebuah film. Seperti kebanyakan film lain, tema mengejar impian merupakan hal yang ingin disampaikan dalam film ini. Tapi yang membuat La La Land berbeda adalah kemasannya. Dikemas dalam genre film musikal, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat membosankan, dan dimainkan dengan gaya klasik oleh pemerannya, yang mungkin terlihat kurang kekinian. Justru keduanya itulah yang menarik bagi saya. 


Diperankan oleh bintang film yang tak terbayangkan sebelumnya akan bermain piano, berdansa sampai bernyanyi memberi kejutan tersendiri. Ternyata Ryan Gosling dan Emma Stone memerankan dengan sangat baik. Damien Chazelle, sang sutradara, dengan berani menampilkan film bergenre musikal di tengah maraknya film sci-fic dan action, yang tampak lebih menjanjikan. Maka, tak heran sang sutradara harus bekerja keras menonjolkan banyak hal. Selain akting para pemainnya, fashion, dan tarian, lagu-lagunya pun digarap dengan indah. Liriknya berima dan bermakna, musiknya teduh dan asyik. Sempurna! City of Star, A Lovely Night, dan Audition (The Fools who Dream) bahkan masih menempel di kepala saya.

Di bioskop saya tak lagi seperti menonton film, melainkan menonton konser atau pertunjukan di layar lebar. Dan kisah mereka, sebagai pemeran pasangan sempurna di beberapa film terakhir mereka, saya pun berharap demikian di film ini. Tapi tak disangka, sang sutradara membuat kejutan indah di akhir film. Barangkali kita bisa meraih apa yang kita impikan meski tidak semuanya. Tapi lebih dari semua itu, La La Land lewat Sebastian dan Mia, saya diingatkan indahnya jatuh cinta.

wishlist

penulis lepas; pengajar; OJT di Jepang; tugas di Paris & Italy; white Christmas; jalan-jalan dgn Abang di Bandung, Medan, Paris, Roma, Turki, Rio de Jainero, Yunani, Perth; nonton konser Coldplay & Jason Mraz; main air di Lombok, Wakatobi, Raja Ampat; sepeda ontel yang keren; punya buku sendiri.

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
@nikenkd / process engineer / interested in process technology and nanotechnology / nikonian / book addict / loves tea / likes shoots / beach & sunset lover

  © Free Blogger Templates 'Photoblog II' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP