Sunday, October 14, 2018

Perjalanan Rasa Aruna

Novel Aruna dan Lidahnya dengan Cover Film
"Rasanya menghibur." Begitulah respon Bono sesaat setelah memasukkan sesendok campor lorjuk ke mulutnya. Campor lorjuk adalah makanan khas Madura berbahan utama lorjuk, sejenis kerang laut yang banyak ditemukan di tepi pantai pesisir Madura. Campor lorjuk terdiri dari irisan lontong, kecambah, mie soun dan remahan peyek, taburan lorjuk dan bawang goreng di atasnya, lalu disiram kuah kaldu lorjuk. Bono meyakinkan teman-temannya: Aruna, Nad dan Farish, bahwa seharusnya makanan ini ada di restoran-restoran yang banyak didatangi oleh orang-orang (kota) yang sedih. Berbeda respon dengan Bono, Aruna malah menganggap masakan itu biasa aja hanya karena ia baru saja di-jutek-in kepala puskesmas setempat. Itu adalah salah satu kisah perjalanan kuliner yang dilalui Aruna, Bono, Nad dan Farish di Madura.

Aruna, diperankan oleh Dian sastrowardoyo, ahli wabah yang bekerja di oraganisasi non-pemerintah,  menemukan kehidupan lewat makanan. Ia melewati rasa pahit, asam, manisnya hidup bersama makanan. Tapi akhir-akhir ini, ada yang salah dengan lidahnya. Indera perasanya itu tak lagi mampu menikmati makanan dengan santai dan gembira. Maka saat ia mendapat tugas melakukan investigasi atas dugaan wabah flu burung di Surabaya, Pamekasan, Pontianak, dan Singkawang, Bono, sahabatnya menyarankan untuk sekalian berwisata kuliner bersama, mencicipi kuliner nusantara di keempat kota tersebut.

Bono, diperankan oleh Nicholas Saputra, chef di restoran ternama di Jakarta, sahabat Aruna yang setia mendengar perjalanan rasa Aruna dan sesekali membuatkan masakan untuknya. Sejak tahu bahwa sahabatnya tak seasyik dulu dalam menikmati makanan, maka ia bersedia menemani Aruna kulineran. Sementara Nadezhda, diperankan oleh Hannah Al-Rasyid, adalah seorang penulis spesialis perjalanan dan makanan, sahabat Aruna yang ditaksir Bono, berpikiran terbuka soal kehidupan, karena seperti makanan, hidup selalu punya banyak rasa dan memberi banyak kejutan rasa. Datang jauh-jauh dari Amsterdam untuk ikut berwisata kuliner dengan sahabat-sahabatnya. Farish, diperankan oleh Oka Antara, dokter hewan, mantan rekan sekantor Aruna yang sempat ia taksir bahkan sampai saat ini. Tak disangka Farish pun ikut ditugaskan untuk investigasi bersama Aruna. Seorang pragmatis dalam menjalani kehidupan, baginya hanya ada hitam dan putih, enak dan tidak enak dalam makanan. Dalam perjalanan keempatnya tak hanya menikmati kuliner lokal, melainkan juga bersinggungan dengan kehidupan persahabatan dan cinta mereka, sekaligus realita sosial, agama, sains, konsiprasi, dan korupsi menjadi bumbu-bumbunya.

Aruna dan Lidahnya adalah film adaptasi lepas dari novel Laksmi Pamuntjak yang berjudul sama. Saya tak sedang membandingkan film dengan novelnya. Biarlah sang penulis skenario dan sang sutradara bebas mengeksplorasi cerita dan kisah dari novel tersebut. Film ini begitu relate dengan kaum urban di rentang usia 30-35 tahun yang kebanyakan mereka meniti karier tanpa lupa menikmati hidup lewat kesenangannya, makanan. Bukan apatis pada realita sosial yang ada, tapi mereka tetap logis dan peduli dalam menghadapinya.

Surabaya, Pamekasan, Pontianak dan Singkawang adalah kota-kota yang kaya akan kuliner lokalnya. Hal itu dipadu dengan teknik pengambilan gambar yang cemerlang dan dialog keseharian yang menarik menjadikan film ini begitu indah untuk dinikmati. Pengambilan gambar/scene dikerjakan dengan sangat detail dan rapi. Kita bisa dengan jelas mendengar suara "kres" dalam mulut Aruna saat mengunyah udah bakar buatan Bono atau suara sruput bibir Aruna saat memasukkan kuah rawon ke dalam mulutnya. Kita juga bisa melihat gerak mulut Aruna mengunyah daging kepiting dari bakmi kepiting pontianak ataupun kulit choi pan yang kenyal. Beragam ekspresi Aruna lewat lirikan mata dan gerakan tubuh diungkapkan secara langsung kepada penonton, sehingga kita pun ikut mengangguk dan tersenyum. Bukan cuma itu, gambar visual saat daging sop buntut yang dilepaskan dari tulangnya, koya dan bawang goreng yang ditaburkan di atas soto ayam lamongan atau kuah campur lorjuk yang dituangkan di atas taburan lorjuk disajikan dengan sangat detail lengkap dengan asap dari panas makanannya.

Kita tak hanya diajak menikmati sajian kuliner lokal, melainkan juga perjalanan persahabatan dan cinta mereka berempat. Tak ada konflik besar yang rumit, hanya konflik dengan diri mereka sendiri dan antar keempatnya. Justru lewat dialog antar keempatnya itulah yang berhasil menghadirkan berbagai rasa. Dalam perjalanan itu, makan bersama dan makananlah yang mempertemukan dan menyatukan mereka. Meski keempatnya punya latar belakang dan ketertarikan yang berbeda, bahkan prinsip serta cara pandang berbeda, mereka percaya bahwa makanan adalah sesuatu yang universal, bisa diterima oleh siapapun, dengan interpretasi apapun.

Maka film Aruna dan Lidahnya adalah sajian lengkap yang sungguh sangat enak untuk dinikmati, terlebih bersama orang tersayang. Dan biarlah indera perasa kita yang menemukan kejutan pada tiap sajiannya. Seperti kata Nadezhda, tidak semua makanan harus dibahas tetapi biarlah makanan itu yang memberi rasa pada lidah dan makna pada jiwa.

Sunday, September 16, 2018

Olah Raga

Pagi tadi saat saya berlari-lari di taman dekat tempat tinggal saya, saya menjumpai seorang bapak juga berlari. Tak ada yang aneh sebenarnya, pagi di akhir pekan menjadi waktu bagi sebagian warga Jakarta berolah raga, seperti kali ini: lari. Demikian juga banyak diantaranya para orang tua berlari atau sekedar berjalan memutari taman. Bagi saya, bapak ini istimewa karena menarik perhatian saya. Sebenarnya sudah beberapa kali saya sempat menjumpainya berlari beberapa hari lalu. Penampilannya sederhana: sepatu karet, topi, kaos oblong seadanya, jauh dari tampilan khas warga Jakarta yang eksis berolah raga: sepatu lari bermerek dan kaos dry fit. Meski demikian, si bapak berlari dengan baik: stabil tanpa diselingi jalan, bahkan ia mampu memutari taman lebih banyak dari saya.

Pada putaran terakhir, si bapak mendekati dan bercerita bahwa ia berolah raga karena ia banyak merokok dan minum kopi. Maka ia mengimbanginya dengan berlari. Ia bercerita lagi bahwa hampir setiap hari berolah raga sebelum berangkat bekerja bersama gerobak makanannya. WOW! 
Saya hanya mampu membalas dengan kekaguman semangatnya berolah raga di tengah kesederhanaan hidupnya.

Ternyata selama ini saya salah, saya sering sekali beralasan tak punya model sepatu lari terbaru atau kaos dan celana olah raga yang fancy sehingga jarang berolah raga atau hanya berolah raga sekedarnya. Tapi semangat untuk sehat jiwa dan raga adalah motivasi paling besar untuk rajin berolah raga. Olah raga, lari, adalah milik semua orang, tak memandang perlengkapan olah raga yang dikenakannya, tapi terutama milik orang-orang yang mau sehat.

Jadi sudah olah raga hari ini?

Sunday, September 9, 2018

Kita Tidak Pernah Benar-Benar Mengenal

Sang Ayah, David Kim (diperankan John Cho) mencari jejak Margot (diperankan Michelle La), anaknya, yang telah hilang selama 37 jam lewat laptop pribadi Sang Anak. Dari laptop itu, Sang Ayah berhasil membobol akun-akun media sosial Sang Anak. Di sanalah, ia menyadari bahwa ia tidak benar-benar mengenal anaknya. Pertemanan, kesukaan, kegiatan sekolah dan luar sekolah yang ia tau selama ini baik-baik saja, namun tidak demikian. Di dunia digital, Sang Anak bisa dengan mudah mempunyai banyak teman, tapi hanya sedikit yang benar-benar dekat dengannya. Di sana pula, ia bisa mengekspresikan dirinya sesuai yang diinginkan. (Untungnya) Sang Ayah tidak gagap teknologi,   sehingga ia bisa menelusuri jejak Sang Anak lewat bantuan mesin pencari.

Meski banyak scene layar monitor dan adegan mengetik, film Searching ini menarik karena mengangkat tema yang aktual dan dekat dengan keseharian. Laptop dan smartphone adalah teman akrab kita. Teknologi memberi ruang baru bagi kehidupan kita. Dunia digital menjadi pelarian dari dunia nyata yang jauh dari harapan kita. Kita bisa mencipta sendiri dunia yang kita inginkan, meski nampaknya jauh dari kenyataan. Itulah yang sering kita temui bahwa seseorang bisa menunjukan hal yang berbeda antara kenyataan dan yang tampak di sosial media.

Kita tidak pernah bisa mengenal seseorang hanya dengan berinteraksi di dunia nyata saja ataupun dunia digital saja. Di sana, setiap orang bebas mengesankan dirinya pada setiap orang yang dikenal atau dijumpainya. Demikian juga bila seseorang itu adalah keluarga atau orang terdekat kita. Bisa jadi kita tidak benar-benar mengenal dengan baik anggota keluarga ataupun orang terdekat kita. Hanya dengan berinteraksi terus-menerus di kehidupan nyata, perlahan kita bisa mengenal dan memahami karakter dan kehidupannya. Tapi apa hanya karena tidak mengenal dengan baik, cinta kita kepada mereka berkurang?

Yah tidak apa-apa kita tidak benar-benar mengenal. Agak membingungkan memang, sementara pepatah mengatakan 'tak kenal maka tak sayang'. Dan jangan takut hanya karena ada banyak yang tidak kita ketahui tentang orang terdekat kita. Kita tetap bisa mencintai orang lain yang bahkan tidak kita ketahui namanya. Apalagi orang terdekat kita. Karena dengan cinta, kita mampu mengenal lebih jauh dan dalam. Bahkan ketika kita tahu bahwa kesukaannya tidak sama dengan kita, pilihannya berbeda dengan kita, kita tetap mencintainya.

2018

Tuesday, August 7, 2018

Indonesia Tersenyum Bersama Mice Cartoon

Benny-Mice, kolaborasi kartun Muhammad "Mice" Misrad bersama Benny Rachmadi berhasil mewarnai hari-hari minggu saya dengan senyuman. Hingga kini sendiri dengan nama Mice Cartoon, tak pernah sekalipun saya melewatkan kartun pendek Mice di halaman koran Kompas Minggu. Mice mengangkat tema keseharian manusia Indonesia ke dalam kartun buatannya. Aktual dan beragam, mulai soal gawai, piala dunia, selfie, macet, banjir, hingga seputar dunia politik. Tak mengherankan jika kartun-kartun karyanya adalah gambaran "Indonesia banget". Bukan hanya menghibur tapi lewat sindiran halus Mice membuat pembacanya berpikir ulang akan kesehariannya selama ini.

Lagak Jakarta, 100 Tokoh Yang Mewarnai Jakarta, Jakarta Luar Dalam, Jakarta Atas Bawah, Lost in Bali 1 & 2, Tiga Manula Jalan-Jalan ke Singapura adalah karya-karyanya yang dibukukan bersama Benny Rachmadi. Hingga ini berkaya sendiri, Mice masih aktif melahirkan buku-buku kartun karyanya: Obladi Oblada Life Must Go On, Andai Aku Jadi Gubernur Jakarta, Politik Santun Dalam Kartun, Indonesia Banget 1 & 2, dan kini United Colors of Indonesia 1 & 2 lahir bersamaan peringatan 20 tahun ia berkarya. Selain itu, pameran tunggal karya-karyanya digelar di Galeri Nasional sejak bulan lalu. Mice mengajak pengunjung pameran untuk tersenyum bersama. Sepintas, kartun dipandang hanya sebatas hiburan remeh ala anak-anak. Tapi Mice menunjukan bahwa kartun adalah media untuk menyampaikan pesan, kegelisahan sekaligus kegembiraan dari kesehariannya hidup di Indonesia.


Kartun-kartun Mice menjadi representasi Indonesia yang multikultural yang terus bertumbuh menemukan bentuknya di antara harapan dan keputusasaan. Sementara kita akan terus tersenyum bersama kartun-kartun Mice merayakan kehidupan. 

Monday, June 4, 2018

ARTJOG 2018: Perjalanan Mencari Pencerahan

Sea remembers - Mulyana Mogus
Pencerahan bagi tiap-tiap orang mempunyai makna yang berbeda. Demikian pula bagi puluhan seniman yang kali ini menggelar karyanya di ARTJOG, pameran seni kontemporer tahunan di Jogjakarta. ARTJOG 2018 kali ini mengambil tema Enlightenment: Towards Various Futures. Ratusan karya dari proses memaknai pencerahan dipamerkan di Jogja National Museum sejak awal Mei lalu hingga awal Juni nanti. Jogjakarta menjadi salah satu kota tersubur kedua setelah Jakarta bagi tumbuhnya seniman. Maka tak heran di ARTJOG menjadi ajang yang menarik bagi penggiat dan penikmat seni nusantara. Tak hanya banyak seniman Jogja, tapi juga Jakarta bahkan luar negeri ikut memamerkan karyanya di ARTJOG.

Jogja menjadi kota sederhana yang mencerahkan bagi sebagian orang, termasuk saya. Sejak orang tua saya memutuskan tinggal di Jogja, ritual pulang kampung pun menjadi sering. Termasuk menyempatkan diri ke melihat pameran seni di ARTJOG kali ini. Setelah melalui perjalanan yang cukup melelahkan, sampailah saya bersama seorang teman di Jogja National Museum. Melihat dan menikmati karya seni adalah bentuk rekreasi bagi saya kaum urban perkotaan yang setiap harinya tenggelam pada kesibukan bekerja. Saya selalu berdecak kagum bagaimana proses mencari dan menemukan bentuk karya yang bisa mempunyai makna sekaligus indah untuk dinikmati.

Seperti para seniman yang berproses dan menghasilkan karya, hidup pun demikian. Setiap waktu kita mencari pencerahan atas peristiwa hidup yang kita alami. Perjalanan mencari pencerahan pun tidak selalu mudah. Kita harus peka dan terbuka kepada segala kemungkinan yang ada. Kadang pencerahan pun muncul bukan dari hal yang muluk-muluk, melainkan dari hal kecil dan sederhana. Dengan mengunjungi ARTJOG 2018 ini, saya menyadari, kita hanya setitik kecil dari sebuah karya agung semesta dan bersama yang lain kita bisa mewujudkan percerahan itu dalam kehidupan bersemesta.

wishlist

tugas di Jepang, Paris & Italy; white Christmas; nonton konser Coldplay & Jason Mraz; lihat senja di Lombok, Wakatobi, Raja Ampat; sepeda ontel yang keren; punya buku sendiri.

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
@nikenkd / process engineer / interested in process technology and nanotechnology / nikonian / book addict / loves tea / likes shoots / beach & sunset lover

  © Free Blogger Templates 'Photoblog II' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP