Friday, January 20, 2017

Menonton La La Land

Sebuah kota kecil dimana musik, seni suara, seni peran menjadi komponennya, itulah La La Land. Berlatar abad 20 di Los Angeles, La La Land digambarkan begitu berwarna. Warna-warna itu jelas terlihat dari fashion juga bangunannya. Film ini berkisah tentang Sebastian Wilder (Ryan Gosling), seorang pianis jazz yang berjuang menghidupkan jazz murni dan Mia Dolan (Emma Stone) yang berjuang mendapatkan peran di sebuah film. Seperti kebanyakan film lain, tema mengejar impian merupakan hal yang ingin disampaikan dalam film ini. Tapi yang membuat La La Land berbeda adalah kemasannya. Dikemas dalam genre film musikal, yang mungkin bagi sebagian orang terlihat membosankan, dan dimainkan dengan gaya klasik oleh pemerannya, yang mungkin terlihat kurang kekinian. Justru keduanya itulah yang menarik bagi saya. 


Diperankan oleh bintang film yang tak terbayangkan sebelumnya akan bermain piano, berdansa sampai bernyanyi memberi kejutan tersendiri. Ternyata Ryan Gosling dan Emma Stone memerankan dengan sangat baik. Damien Chazelle, sang sutradara, dengan berani menampilkan film bergenre musikal di tengah maraknya film sci-fic dan action, yang tampak lebih menjanjikan. Maka, tak heran sang sutradara harus bekerja keras menonjolkan banyak hal. Selain akting para pemainnya, fashion, dan tarian, lagu-lagunya pun digarap dengan indah. Liriknya berima dan bermakna, musiknya teduh dan asyik. Sempurna! City of Star, A Lovely Night, dan Audition (The Fools who Dream) bahkan masih menempel di kepala saya.

Di bioskop saya tak lagi seperti menonton film, melainkan menonton konser atau pertunjukan di layar lebar. Dan kisah mereka, sebagai pemeran pasangan sempurna di beberapa film terakhir mereka, saya pun berharap demikian di film ini. Tapi tak disangka, sang sutradara membuat kejutan indah di akhir film. Barangkali kita bisa meraih apa yang kita impikan meski tidak semuanya. Tapi lebih dari semua itu, La La Land lewat Sebastian dan Mia, saya diingatkan indahnya jatuh cinta.

Saturday, January 7, 2017

Sihing

Meski lahir dan besar di Jawa, saya tidak paham benar bahasa Jawa alus, terutama bahasa Jawa yang digunakan saat misa bahasa jawa. Seperti misa malam Natal yang lalu, mengikuti misa bahasa Jawa memberi pengalaman rasa yang berbeda. Pernah mengikuti misa beberapa bahasa asing, misa bahasa Jawa mempunyai daya magisnya sendiri. Saya tak perlu banyak mencari tau artinya, melainkan hanya merasakannya. 


Drama singkat Maria menerima kabar dari malaikat, Maria mengunjungi Elisabet hingga Kelahiran Yesus disuguhkan dengan indah melalui tarian dan dialog bahasa Jawa. Diiringi musik gamelan menambah syahdunya suasana malam itu. Hingga pada suatu bacaan, saya menemukan kata Sihing.

Sihing, yang dalam bahasa Indonesia berarti kasihNya, terdengar begitu romantis. Mengingatkan saya berbagai peristiwa yang sudah saya lalui sepanjang tahun lalu. Saya percaya tak ada satupun yang terlewat dari kasihNya. KasihNya menjelma dan mewujud dalam berbagai rupa. Tak pernah padam, hanya kadang saya lalai menyadarinya.

Thursday, November 17, 2016

Perjalanan

Setelah lama tidak berkunjung ke daerah Jawa sebelah timur, akhirnya saya mendatangi Trenggalek, kota kecil di selatan Jawa Timur. Memenuhi undangan pernikahan teman dekat, saya bersama 3 orang teman saya naik kereta dari Jakarta. Menempuh perjalanan 13 jam dengan kereta ekonomi, memberi cukup banyak waktu bagi saya untuk mengenal teman seperjalanan saya. Sama-sama berasal dan tumbuh besar di Surabaya dan sekitarnya, bahasa rasa Suroboyo pun mengalir lancar dari percakapan kami, suatu waktu yang saya rindukan. Ketika saya sempat bertanya menggunakan bahasa Indonesia, seorang teman bahkan menertawakan karena saya bertanya begitu resmi, bukannya menggunakan bahasa Suroboyoan sehingga tampak lebih akrab. Tidak semua perjumpaan dengan teman, saya bisa lepas berbahasa daerah. Ah saya merasa kembali "pulang". Yang saya suka dari Jawa Timur adalah keterbukaannya dan keterusterangannya mengenai suatu keadaan. Apa adanya. Dan kami pun bebas berkomentar mengenai apapun sampai tertawa lepas.

Setiba di Trenggalek dan melewati kota-kota kecil di Jawa Timur, saya berjumpa dengan orang-orang dan memori lama saya tentang Surabaya. Makanan, jalanan, percakapan, moda-moda transportasi hingga karakter orang Jawa Timur. Saya menyakini di era dunia digital, masih ada hal-hal kecil yang mempunyai arti. Dan saya menemukannya melalui teman-teman seperjalanan saya, makanan bahkan bis malam Tulungagung-Surabaya. I owe you, Jawa Timur.

Sunday, October 23, 2016

The Girl who Fell in Love with The Moon: Kisah Cinta Manusia Pada Langit


Scarlet menyukai bintang. Ia terpukau pada kilau indahnya. Setiap kali ia menjumpai benda berkilau, ia simpan layaknya menyimpan bintang dalam sebuah toples. Suatu ketika seorang asing memberinya sebuah tiket ke Hollywood untuk bertemu 'bintang'. Dengan penuh harap, ia tiba di Hollywood. Betapa kagetnya, 'bintang' yang dijumpainya tak seperti yang ia bayangkan.

Clive suka mengumpulkan informasi. Setiap hari ia membaca koran dan mencari informasi hingga kepalanya penuh dengan informasi. Hingga ada sebuah mesin pencari informasi bernama Google, Clive makin banyak mendapat informasi dari dunia barunya itu. Makin hari kepalanya membesar karena makin penuh dengan informasi. Hingga kepalanya itu mampu membawa Clive naik di atas awan-awan.

Jack yang misterius ternyata sudah pernah dekat mencapai langit. Ketika keempat temannya begitu mendamba mencapai langit, Jack sudah pernah melampauinya. Meski demikian, ia tak pernah menceritakan pengalamannya itu kepada teman-temannya. 

Selena tinggal di sebuah pantai kecil bersama teman-teman binatangnya. Ia ingin mencapai matahari yang dilihatnya setiap hari. Berlayar hingga ke barat, mendaki bukit hingga menaiki seekor elang, ia lakukan sampai mendapatkan matahari.

Luna suka sekali melihat bulan. Ia membayangkan seorang laki-laki ada di bulan yang selalu ia kagumi. Suatu ketika terjadi hujan meteor, Luna naik ke atap untuk melihat, dan ia berjumpa seorang laki-laki yang selalu ia bayangkan dari bulan.

5 kisah dari Luna dan keempat temannya atas kecintaannya pada langit dihadirkan dengan indah oleh The Human Zoo Theatre. Bukan hanya dialog-dialog, tapi juga musik, nyanyian, tari dan humor segar diselipkan pada pertunjukannya. Teater asal Inggris ini mampu mengeksplorasi keinginan manusia akan sesuatu yang tak bisa disentuhnya. Seperti kecintaannya pada langit. Mungkinkah manusia menggapai bintang, matahari dan bulan? 

The girl who fell in love with the moon menjadi salah satu kisah manusia yang dengan ego-nya ingin memiliki sesuatu yang tak mungkin bisa dimiliki. Harapan boleh tinggi tapi kadang keterbatasan sering membuat manusia tak berdaya. Lalu manusia belajar untuk melepaskan juga merelakan.

*foto oleh Witjak Widhi Cahya (Salihara)

 

Monday, May 9, 2016

PerEMPUan

Hari-hari ini saya banyak merenung tentang perempuan. Barangkali puisi Joko Pinurbo berikut bisa mewakili perenungan saya.

Minggu Pagi di Sebuah Puisi
Joko Pinurbo

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah
ketika hari masih remang dan hujan, hujan
yang gundah sepanjang malam
menyirami jejak-jejak huruf yang bergegas pergi, pergi
berbasah-basah ke sebuah ziarah.

Bercak-bercak darah bercipratan di rerumpun aksara
di sepanjang via dolorosa.
Langit kehilangan warna, jerit kehilangan suara.
Sepasang perempuan (panggil: sepasang kehilangan)
berpapasan di jalan kecil yang tak dilewati kata-kata.

“Ibu hendak ke mana?” Perempuan muda itu menyapa.
“Aku akan cari dia di Golgota, yang artinya:
tempat penculikan,” jawab ibu yang pemberani itu
sambil menunjukkan potret anaknya.
“Ibu, saya habis bertemu Dia di Jakarta, yang artinya:
surga para perusuh,” kata gadis itu sambil bersimpuh.

Gadis itu Maria Magdalena, artinya: yang terperkosa.
Lalu katanya: “Ia telah menciumku sebelum diseret
ke ruang eksekusi. Padahal Ia cuma bersaksi
bahwa agama dan senjata telah menjarah
perempuan lemah ini.
Sungguh Ia telah menciumku dan mencelupkan jariNya
pada genangan dosa di sunyi-senyap vagina;
pada dinding gua yang retak-retak, yang lapuk;
pada liang luka, pada ceruk yang remuk.”

Minggu pagi di sebuah puisi kauberi kami kisah Paskah
ketika hari mulai terang, kata-kata telah pulang
dari makam, iring-iringan demonstran
makin panjang, para serdadu
berebutan kain kafan, dan dua perempuan
mengucapkan salam: Siapa masih berani menemani Tuhan?
(1998)

wishlist

penulis lepas; pengajar; OJT di Jepang; tugas di Paris & Italy; white Christmas; jalan-jalan dgn Abang di Bandung, Medan, Paris, Roma, Turki, Rio de Jainero, Yunani, Perth; nonton konser Coldplay & Jason Mraz; main air di Lombok, Wakatobi, Raja Ampat; sepeda ontel yang keren; punya buku sendiri.

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
@nikenkd / process engineer / interested in process technology and nanotechnology / nikonian / book addict / loves tea / likes shoots / beach & sunset lover

  © Free Blogger Templates 'Photoblog II' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP