Sunday, March 17, 2019

Mudahnya Mengurus Paspor di Jepang

Tinggal untuk beberapa waktu di Jepang, tidak meninggalkan hak dan kewajiban kita sebagai WNI. Demikian pula untuk urusan dokumen negara, yaitu perpanjang paspor. Mengalami masa paspor berlaku habis saat tinggal di Jepang adalah sebuah berkah, setidaknya bagi saya begitu. Membayangkan pengurusan paspor di Jakarta saja sudah lelah apalagi menjalaninya. Di Jeoang, semua urusan kenegaraan Republik Indonesia berada di KBRI Tokyo di Meguro. Untungnya jarak Yokohama-Tokyo tidak terlalu jauh dan mudah ditempuh dengan kereta selama 40-50 menit. Dan pasti orang yang datang untuk mengurus aneka dokumen negara tak sebanyak di Jakarta.

Pelayanan untuk pengurusan dokumen negara dibuka pada jam 09.30-14.30. Sementara itu pintu sudah mulai dibuka sejak jam 09.00. Tiba di KBRI, saya masuk di depan ruang pelayanan yang saat itu masih belum buka. Ternyata sudah ada 2 orang lain yang juga akan memperpanjang paspor. Jadi saya mendapat urutan ketiga. Segera setelah pintu ruang pelayanan dibuka, kami segera mengambil nomer urut di mesin pelayanan lalu menunggu panggilan.

Untuk pengurusan perpanjangan paspor pastikan berkas-berkas berikut sudah terpenuhi:
1. Fotokopi bukti domisili di Jepang/residence card depan dan belakang dalam 1 halaman
2. Fotokopi dokumen keluaran Indonesia seperti akta lahir / KK / Ijazah
3. Fotokopi dokumen pelengkap seperti kartu mahasiswa / surat keterangan kerja (certificate of employee)
4. 1 lembar pas photo terbaru 4x6
5. Paspor asli dan fotokopi halaman identitas dan alamat dalam 1 halaman

Selain dokumen tersebut, pemohon harus mengisi form perpanjangan paspor yang bisa di download di web KBRI Tokyo. Jika seluruh persyaratan dokumen terpenuhi, proses perpanjangan paspor pun berjalan lancar. Setelah dipanggil oleh petugas dan mengkonfirmasi seluruh data sudah benar, dilanjutkan dengan pengambilan foto untuk paspor dan input sidik jari. Sambil menunggu proses selesai, petugas akan meminta kita membeli tiket pengurusan paspor di mesin otomatis sebesar ¥3200. Lalu petugas akan memberikan bukti tanda terima pembayaran pembuatan paspor. Selesai.

Paspor akan selesai dalam 3 hari. Pemohon bisa mengambil sendiri di KBRI Tokyo atau meminta pihak KBRI mengirimkan ke alamat yang diminta dengan menyertakan letter pack yang mudah dibeli di lawson/sevel/family mart. Demikianlah saya 3 hari kemudian menerima paspor baru saya dengan gembira. Yang akan jadi kenangan adalah akan tertulis tempat dikeluarkan paspor KBRI Tokyo dan halaman alamat akan ditambah alamat di Jepang. 

Ah mudahnya mengurus paspor di Jepang!

Saturday, February 2, 2019

Lagu dan Perjalanan

Salah satu teman perjalanan saya adalah earphone dengan media pemutar musik seperti ipod atau smarphone. Mendengarkan musik memang terbukti membuat lamanya perjalanan tidak terasa. Bahkan saya pernah kelewatan stasiun karena asyik mendengarkan musik. Lebih dari itu, musik memberi pengaruh pada mood, perasaan, pikiran bahkan kesehatan kita.


Saking seringnya mendengarkan musik saat dalam perjalanan, saya punya lagu tertentu dalam suatu perjalanan tertentu. Lagu itu mengingatkan kembali perjalanan yang saya lalui. Seperti ada lagu saat saya sedang berdesakan di KRL Tanah Abang-Jurangmangu atau dalam bis DAMRI dari Lebak Bulus menuju bandara Soekarno Hatta. Maka saat mendengarkan lagu-lagu tersebut, rasa itu datang lagi: berdesakan sumpek atau excited ke bandara.

Lagu ternyata bisa menjadi penanda suatu pengalaman perjalanan. Maka saat perjalanan liburan tahun baru yang lalu pun akan selalu terekam dalam sebuah memori lagu.

Saturday, January 26, 2019

Tak Ada Kernet Bus di Jepang

bus yang saya tumpangi
Selama melakukan perjalanan liburan musim dingin awal tahun kemarin, saya menggunakan bus sebagai alat transportasi saya ke luar kota. Sementara saat di Jakarta saya sangat jarang menggunakan bus luar kota, saya "terpaksa" memilih menggunakan bus saat di Jepang karena biaya yang relatif murah dibanding alat transportasi lain seperti pesawat dan kereta cepat / kereta luar kota. Melalukan perjalanan dari Tokyo, sisi timur Jepang ke Takayama, sisi barat Jepang selama 5 1/2 jam tidak terasa lama karena nyamannya bus dan lancarnya perjalanan. Meski tarifnya relatif murah, bus luar kota di Jepang rata-rata mempunyai bangku yang nyaman dengan ruang kaki yang cukup lega. Bangku 2-2 umumnya digunakan pada tarif paling murah. Ada pula pilihan bangku 1-1 atau 1-2 dengan ruang kaki yang sangat lega untuk tarif premium.

Jadwal atau jumlah bus luar kota dalam satu trayek dalam satu hari cukup banyak, dengan keberangkatan paling pagi jam 07.00 hingga malam hari pukul 20.00, bahkan ada overnight bus pada musim tertentu (musim panas). Setiap calon penumpang diharuskan membeli tiket sebelum menaiki bus. Tiket bisa dibeli melalui berbagai cara: online lewat website, mesin otomatis tiket yang tersedia di terminal bus, ataupun di loket penjualan tiket. Tidak seperti di Indonesia, calon penumpang bisa membeli tiket di dalam bus ataupun di calo-calo tiket yang berkeliaran di terminal.

Setelah mendapatkan tiket dengan nomor kursi, calon penumpang bersiap di ruang tunggu dan mencari gate keberangkatan. Saat akan naik ke dalam bus, tiket akan diperiksa oleh sang pengemudi bus. Tas berukuran besar dimasukan ke dalam bagasi dekat mesin bus. Hanya ada satu orang yang membantu penumpang memasukan bagasi. Ketika seluruh calon penumpang sudah lengkap menaiki bus, bus segera diberangkatkan tepat pada jam yang tertera di tiket.

Sang pengemudi bus hanya seorang diri bersama para penumpang. Bus akan berhenti di beberapa rest area untuk memberi kesempatan penumpang ke toilet atau sekedar membeli makan/minum. Dan hanya sang pengemudi yang memastikan para penumpangnya sudah kembali dengan lengkap. Dalam perjalanan hampir tak ada macet, hanya di beberapa titik keluar pintu tol, maka tak perlu ada pula seorang lain yang mengarahkan jalannya bus. Hanya ada radio jarak jauh yang mengabarkan kondisi lalu lintas jalanan. Saat tiba di tempat tujuan, sang pengemudi bus segera turun dan mengucapkan salam perpisahan di depan pintu keluar bus  kepada semua penumpangnya. 

Pengalaman yang menyenangkan bagi saya bisa menaiki bus jarak jauh di Jepang. Selain nyaman dan aman, saya begitu terpukau pada dedikasi sang pengemudi pada profesinya. Saat para penumpang tertib, system pertiketan yang berjalan baik serta situasi lalu lintas yang mendukung, sang pengemudi tak butuh lagi kernet sebagai pendamping perjalanan. Ah andai di Indonesia bisa begini.

Saturday, January 12, 2019

Salju: Sebuah Kemewahan

Meski musim dingin, di Yokohama tempat saya tinggal tidak turun salju. Demikian juga Tokyo, yang letaknya tak jauh dari Yokohama juga tidak turun salju. Hanya pada waktu yang sangat jarang bisa turun salju. Salju di Jepang banyak dijumpai di daerah utara hingga barat. Maka saat libur akhir tahun dan tahun baru tiba, saya berniat berburu salju. Bukan ke arah utara atau sejauh Hokkaido, saya pergi ke arah barat, hampir tepat di tengan kepulauan Jepang.

Terletak di antara pegunungan yang jauh dari pusat keramaian, desa Shirakawa-go ditetapkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO karena keberadaannya yang masih asali. Rumah-rumah di desa Shirakawa-go dibuat dari bahan kayu dan atapnya disusun dari jerami. Rumah-rumah itu dikenal dengan nama Gassho-zukuri. Gassho-zukuri diambil dari gambaran atap rumah itu yang nampak seperti kedua lengan saat berdoa. Atap rumah dari jerami tadi dibuat dengan kemiringan yang cukup tajam untuk memudahkan salju cepat turun dan tidak menumpuk di atap. Struktur dan bentuk rumah-rumah itu memang sesuai dengan keadaan alam yang mengapit desa Shirakawa-go.

Shirakawa-go dari Ogimachi Observation Deck

Maka saat musim dingin dan hujan salju, adalah saat-saat tepat untuk menikmati keindahan desa Shirakawa-go. Salju setebal 1-2 meter bisa menutupi halaman atau persawahan sekitar desa. Demikian juga rumah gassho-zukuri sebagian besar diselimuti salju. Hamparan putih menjadi suguhan sejauh mata memandang. Rumah-rumah asali atau yang sudah dibangun sejak dahulu kala masih dirawat dengan baik dan dibuka untuk pengunjung.

Sebagai anak tropis, salju adalah sebuah kemewahan bagi saya. Rasa dingin tertutup oleh rasa kagum atas indah dan lembutnya salju. Lebih-lebih saya juga ikut merasakan guyuran hujan salju. Luar biasa. Perjalanan jauh saya dari Yokohama terbayar dengan indahnya desa Shirakawa-go.

2019

Tuesday, December 25, 2018

Natal

Tidak seperti di kebanyakan negara lain, Hari Natal di Jepang bukanlah hari libur nasional. Maka di hari penuh sukacita ini, saya tetap berangkat ke kantor dan menyiapkan bekal makan siang. Seperti hari-hari biasa bulan Desember yang dingin, orang-orang bergegas naik kereta dan berjalan meuju tempat tujuannya masing-masing. Bukankah Tuhan memang hadir dari hal-hal yang tampak biasa saja?

Selamat Natal. Bersukacitalah!

wishlist

tugas di Jepang, Paris & Italy; white Christmas; nonton konser Coldplay & Jason Mraz; lihat senja di Lombok, Wakatobi, Raja Ampat; sepeda ontel yang keren; punya buku sendiri.

About Me

My photo
Jakarta, Indonesia
@nikenkd / process engineer / interested in process technology and nanotechnology / nikonian / book addict / loves tea / likes shoots / beach & sunset lover

  © Free Blogger Templates 'Photoblog II' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP