Indonesia yang terlalu religius
Indonesia ini terlalu religius, begitu katamu saat dalam perjalanan kita ke tempat baru yang begitu rapi, tertib dan teratur. Berbeda dengan tanah air yang kita diami, dimana sarana transportasi kurang memadai, pembangunan tidak merata dan kurang tepat, penataan kota yang semrawut. Kehebatan negeri kita cuma sampai membangun gedung-gedung bertingkat, jalan layang, mall-mall mewah, kemudian melupakan tata kota yang baik dan manusiawi. Maka timbullah persoalan lain yaitu kemacetan, banjir dan tindak kejahatan kriminal. Terlebih lagi Jakarta, kota yang kini menjadi sumber penghidupan saya, bukanlah tempat tinggal yang manusiawi. Dengan adanya permasalahan yang mestinya diselesaikan dan dicarikan jalan keluar, pemerintah malah meributkan dan mrnyalahkan hal lain. Seperti menyudutkan perempuan yang memakai rok mini sebagai penyebab tindakan pelecehan seksual, membesar-besarkan berita toilet mewah di gedung parlemen, bahkan ikut menghalangi kebebasan beribadah dan berkumpul. Pemerintah sibuk mengurusi moral rakyatnya. Disuguhi ceramah moral, rakyat pun menjadi seketika religius. Merasa sudah baik dan benar, tak jarang sekelompok orang menyerang sekelompok lain yang bersebrangan ataupun menghalangi keberagaman.
Dan memang benar katamu, karena terlalu sibuk urusuan religi, kami lupa bahwa ketertiban, keamanan dan kenyamanan kehidupan perkotaan adalah tanggung jawab bersama bukan merasa paling benar. Dari pada beramai-ramai membubarkan orang-orang yang berdikusi kenapa tidak membubarkan preman-preman yang nongkrong di terminal atau menertibkan angkot-angkot yang ngetem sembarangan? Lebih make sense kan?!
0 comments:
Post a Comment